22 Des 2013

Hujan dan Rindu

Diposting oleh Drina at 04.23 0 komentar

Hujan sedang menghantarkan rindu...
Membahasakan kata yang tak terucap, ketika raga terpisah jarak; padamu.

Rheadrina, 22 des 13

7 Nov 2013

Dinner

Diposting oleh Drina at 07.16 0 komentar
Malam minggu kemarin, Aku diajak paman untuk menghadiri undangan di Hotel Santika. Pamanku yang mempunyai usaha perbengkelan itu mendapat undangan dari rekan bisnisnya (ceileeee... bahasamu nak ckckck) di acara ASPIRA RETAILERS GATHERING. Menurut pamanku, itu cuma acara makan malam biasa sambil memperkenalkan produk terbaru keluaran ASPIRA.

Setibanya di Hotel, kami langsung diantar ke sebuah ruangan dan melakukan register. Undangan yang merupakan tiket masuk diganti dengan tas berisi kupon door prize, beberapa lembar brosur, juga cinderamata berupa kaos dan ikat pinggang. Setelah itu kami dipersilahkan masuk dan duduk dimana saja kami suka. Ada sekitar 10 (atau mungkin 12) meja bundar yang dikelilingi masing-masing 10 kursi, diantaranya terdapat 2 atau 3 meja yang diperuntukan khusus para undangan yang vegetarian.

Kami duduk di sebuah meja di sebelah kiri ruangan, di sana sudah duduk 1 pasang suami istri dan seorang bapak yang datang sendiri. Ketiganya berwajah chinese (sama seperti mayoritas undangan yang lainnya) dan pamanku mengenal mereka dengan baik. Selang beberapa waktu, sepasang suami istri datang dan duduk di meja yang sama dengan kami. Istrinya mengenakan jilbab sepertiku, dan mereka juga bukan chinese sama seperti kami.

Ketika tamu undangan duduk, waiter langsung mengambil saputangan yang terlipat di atas meja, membuka lipatannya lalu meletakkannya hati-hati dipangkuan kami. Setelah itu meraka akan membuka tutup gelas dan menuangkan air putih, juga teh ke dalam cawan kecil. Aku tak tau teh apa yang dihidangkan oleh mereka, seperti teh hijau yang sering diminum para gadis yang sedang berdiet. Sepat, meninggalkan rasa pahit di lidah untuk beberapa saat. Tapi tak lama, karena kemudian pahit itu hilang dan terasa segar ditenggorokan.

Selain gelas dan cawan teh, ada piring yang di sebelah kanannya terdapat sendok makan, sendok sup dan sumpit. Sementara di sebelah kiri piring terdapat dua garpu. Di tengah-tengah meja aku melihat beberapa mangkuk kecil berisi acar, cabe, kecap asin dan juga sambal (dilihat dari tampilannya, itu sambal bangkok). Ada juga botol kecil berisi garam dan merica. Tak ketinggalan menu makan malam yang diketik rapi dengan huruf kecil-kecil di sebuah kertas yang dijepit diatas sebuah besi dan diletakkan persis di tengah-tengah meja.

Melihat tata meja yang diatur sedemikian rupa dengan segala yang menghiasinya, aku jadi grogi. Secara aku tak terbiasa menghadiri acara yang high class seperti ini. Tiba-tiba saja aku takut jika harus menggunakan sumpit, karena aku tak bisa menggunakannya. Atau salah cara memegang sendok (plis deh!), atau salah memakai garpu yang seharusnya (ada dua garpu, dan aku tak melihat ada perbedaan diantara keduanya). Atau malah melakukan hal konyol lainnya yang gak sesuai dengan tata cara makan di meja makan yang baik dan benar (table manner). Dan, aku yang paling penting aku takut mempermalukan pamanku di hadapan teman-temannya.

Lupakan! Aku yakin gak semua chinese di ruangan itu memahami table manner, walau sudah pasti mereka ahli menggunakan sumpit :P

Setelah acara dibuka, kata sambutan dan hal-hal yang gak penting lainnya. Satu persatu para waiter menghidangkan menu makan malam sambil diiringi suara merdu mbak penyanyi dan cuap-cuap mas MC. Makanan pembukanya adalah Hongkong Springroll dan Pototo Salad and Smoked Beef, dilanjutkan dengan Asparagus Crab Meat Soup 

Hongkong Springroll itu bentuknya kayak risoles, tapi lebih kenyal. Sepertinya bahan dasar kulitnya bukan dari terigu tapi tepung beras (ini hanya dugaanku haha).  Isinya aku gak merhatiin sih ya, yang pasti ada jamur kupingnya (itu loh jamur yg berwarna cokelat kehitaman yang sering ada di dalam tekwan atau kemlo. Tau kan?). Springroll ini paling enak dimakan pake sambal bangkok.

Potato salad and smoked beef adalah Kentang rebus yang dipotong dadu dengan daging asap yang diiris tipis memanjang seperti lidi (beneran seperti lidi, saking tipisnya gak terasa rasa daging asapnya). Lalu kedua bahan itu dicampur dengan mayones. Menurutku sih rasanya tawar, jadi aku menambahkan sedikit sambal bangkok (lagi) sebagai pelengkap.

Asparagus crab meat soup. Makanan yang satu ini mengingatkanku dengan makanan khas daerah Indonesia bagian Timur (Papua) yang berbahan dasar tegung kanji (sagu). Sedikit lebih kental dari sup biasa, ada taburan daun bawang di atasnya. Sup ini lezat karena dihidangkan hangat. Bawang putih juga ikut mempertajam rasanya. ENAK

Oya, setiap selesai satu hidangan, sebelum menghidangkan menu selanjutnya, waiter akan membereskan sisa makanan di piring kita, mengganti piring dengan mangkuk, atau sendok/garpu yang kita pakai dengan yang bersih, lalu menuangkan lagi air putih dan teh yang telah berkurang.

Selanjutnya waiter menghidangkan nasi putih di dalam mangkok yang diletakkan di atas piring. Aku langsung membayangkan orang-orang China, Jepang atau Korea yang memakan nasi dalam mangkok dengan sumpit. Tapi lalu bertekat, apa pun yang terjadi, walau semua orang memakan nasinya dengan sumpit, aku akan tetap cuek menggunakan sendok hehe... 

Tak lama berselang, dihidangkan pula Crab Meat Fried Rice. Awalnya ketika membaca menu bertuliskan CRAB, aku membayangkan seekor kepiting (lengkap dengan capitnya). Sedikit kaget ketika melihat apa yang dibawa oleh waiter, lalu maklum ketika membaca ulang menu yang tertulis. Gak heran jika yang dihidangkan adalah nasi goreng dengan wortel yang diiris tipis memanjang seperti lidi (lagi?) juga timun dengan irisan serupa lidi juga (hah?) yang dicampur dengan telur (awalnya kupikir telur, tapi mengingat nama menunya jadi aku ralat. Sepertinya bukan telur melainkan daging kepiting yang telah dihaluskan hehe...). Dan menu ini berhasil menyingkirkan nasi putih dalam mangkok untuk keluar dari piringku. Tentu saja itu artinya, aku gak harus makan nasi putih dengan sumpit :P

Menyusul kemudian Chicken with peanut sauce, ayam yang dimasak dengan kacang dan kecap. Rasanya manis. Aku kurang suka. Juga Steam fish with anchouvies and lime. Aku gak tau jenis ikan apa yang dipake, tapi sepertinya ikan laut sih. Dan menu yang satu ini terasa sedikit amis walau katanya pake lime. Untunglah rasa amis itu dinetralisir dengan Brokoli saus udang bawang putih. Campuran brokoli, bunga kol dan wortel yang ditumis dengan bawang putih. Tapi hei tunggu dulu, aku tak menemukan udang didalam makanan ini (bahkan bau dan rasanya pun tidak), Huh.. :(

Wujud nyata si Udang aku temukan di menu selanjutnya: Udang Goreng With Saus Telur Asin. Aku sedikit menyesalkan kenapa menu yang dihidangkan bukan udang goreng tepung (jika memang mau digoreng), atau dimasak dengan saus tiram, atau dibikin udang asam manis aja. Lebih simpel dan enak tentunya. Aku memang gak suka telur asin dan baru kali ini aku dengar saus telur asin (what? Telur asin? Siapa sih yang punya ide telur asin dijadiin saus?). Gak pas aja menurutku, apalagi dicampur ke udang goreng. Rasanya jadi aneh gitu. Dan dengan terpaksa aku hanya mengambil satu ekor udang ukuran kecil saja. Nyicip. 

Menu yang kedengarannya paling sederhana adalah Mie Goreng Singapure. Gak ada yang istimewah dari mie goreng ini, sama aja kayak mie goreng biasanya. Ntah kenapa namanya memakai embel-embel Singapure, aku juga heran. Toh cuma mie yg dicampur sawi bakso (sayur sawi yang biasanya ada di bakso) dan potongan sayur kubis, dikasih wortel sama daun bawang trus digoreng. Sepertinya bumbunya cuma garam doank deh, karena gak ada rasa pedasnya sama sekali, manis juga gak.

Terakhir, waiter menghidangkan Beef canton. Ini makanan jadi menu favoritku. Pernah makan sate padang? Nah menu yang satu ini rasanya mirip kayak sate padang (walau dagingnya gak ditusuk pake lidi sih hehe). Pokoknya enak deh, aku suka banget!

Dan setelah banyaknya menu di atas, makan malam ini ditutup dengan Puding cokelat yang lezat (walau tanpa fla) dan juga Sliced fresh fruit, berupa irisan buah pepaya, melon, dan semangka. Yang bikin mata tambah seger adalah pada saat yang bersamaan panitia acara mulai membagi-bagikan door prize yang menggiurkan. Ada iPad, Tablet dan juga smartphone (loh kenapa bukan produk ASPIRA ya? #bingung). Lalu setelah diselingin dengan acara joget Caesar (lebih gak nyambung lagi), semua undangan yang tidak mendapatkan door prize disuruh maju membawa kupon untuk ditukarkan dengan bingkisan yang ternyata isinya handphone. WOW!!! Terakhir foto bersama dan B.U.B.A.R!

Sepulang dari acara tersebut, sesampainya di rumah, aku yang anak ekonomi ini mulai menghitung-hitung berapa dana yang dihabiskan oleh penyelenggara untuk acara dinner plus bagi-bagi hadiah itu. Mulai dari sewa tempat, honor MC+pemain musik+penyanyi+ panitia, biaya makan dengan menu sebanyak itu, cinderamata, hadiah dan tentu saja tip buat para waiter. Ah... sudahlah, aku jadi berhayal punya uang sebanyak itu hehe..

Well, sekian cerita gak penting ini. Sebenarnya tadi cuma mau ngomentari makanannya aja tapi malah ngelantur kemana-mana. Yang pasti, (lagi-lagi) menurutku yang terpenting dari makanan itu bukan namanya tapi rasanya. Setuju? Okesipz! ^_^

20 Okt 2013

Aku Mencoba

Diposting oleh Drina at 07.39 0 komentar

Aku mencoba, walau susah...
Demi mimpi yang ingin ku jadikan nyata.
Demi hati yang selalu membesarkan diri dan berusaha tabah, mengukir senyum di bibir dan rona wajah bahagia.
Demi kaki yang tetap melangkah, mengejar ketertinggalan yang kian jauh jaraknya.
Demi pikiran yang tak pernah berhenti berpikir dan tangan yang senantiasa bekerja, walau didera gelisah dan lelah.
Demi waktu yang pernah tersia-siakan saat putus asa lebih dominan daripada kepasrahan.

Sungguh, aku telah mencoba...
Walau tak jarang berurai airmata,
Walau kadang diri dikuasai amarah,
Walau rasanya selalu ingin menyerah dan kerap merasa kalah.
Aku selalu mencoba,
Demi menjaga semangat agar tetap membara.

Dan, aku percaya....
Walau susah, AKU PASTI BISA! :)

rheadrina, Oktober 2013

7 Okt 2013

Pergi

Diposting oleh Drina at 07.39 0 komentar

Lagi, dan ini terulang lagi. Kembali ada yang pergi, meninggalkan sepiku yang kian sendiri.

Mungkin... Sedih ini bukan tentang kepergianmu, tapi karena ketertinggalanku dari waktu ke waktu.

5 Okt 2013

Selalu Ada...

Diposting oleh Drina at 08.57 0 komentar

Saat satu persatu semua orang 'meninggalkan' ku, aku tau Kau selalu di situ memperhatikanku. Kau selalu ada, bahkan walau aku menolak untuk bicara dan berbagi asa.

4 Okt 2013

Diposting oleh Drina at 06.39 0 komentar

Ya Allah, jangan biarkan semangat ini begitu cepat menguap. Biarkan ia melekat erat pada niat dan tekad yang kuat.

3 Okt 2013

Diposting oleh Drina at 06.04 0 komentar

Kenapa kau selalu bertanya, sedang kau tau aku tak punya jawabnya.

Diposting oleh Drina at 05.20 0 komentar

Aku rindu, aku yang merana.
Kau di sana bahkan tak merasa.

29 Sep 2013

Diposting oleh Drina at 01.30 0 komentar

Mungkin sudah waktunya aku berhenti
Langkahku tak akan menujumu lagi

26 Sep 2013

Diposting oleh Drina at 21.09 0 komentar
Setahun menjelang kau belum juga datang,
Bahkan tanpa kepastian.
Kau yang terlalu, atau aku yang bodoh karena masih mau menunggu?

24 Sep 2013

Bertahan Dalam Penantian

Diposting oleh Drina at 06.24 0 komentar

Seharusnya kau tau sampai saat ini aku masih bertahan, hanya karena satu alasan:
Dulu kau pernah bilang akan datang, walau tak tau kapan.

Sejauh ini bukannya aku tak mengerti,
bahwa hampir setiap kali kau memberi tanda agar aku tau bahwa kau ada.
Mengamatiku selalu dan berharap tegur sapa dariku.
Dalam diam, aku pun begitu.

Jadi...
Bisakah kau bayar penantianku ini
Sebelum tahun berganti dengan yang baru lagi?

Rheadrina, penghujung september 2013

21 Agu 2013

Melanjutkan Hidup

Diposting oleh Drina at 03.52 3 komentar
:: Hidup Ini Nggak Akan Berhenti Hanya Karena Kamu Patah Hati, Atau Ditinggal Kekasih. Apalagi Kalau Hanya Ditinggal Sahabat Pergi ::

Mulai saat ini kita akan berjalan ke arah yang berbeda, untuk mengejar mimpi-mimpi, menggapai cita dan cinta serta menjalankan peran dalam kehidupan kita. Aku akan merindukan kalian, sungguh... Semoga nanti ketika kita bertemu lagi, akan ada cerita bahagia yang bisa kita bagikan.

Menuju pengujung Agustus 2013
Rheadrina :)

14 Agu 2013

My Cedar

Diposting oleh Drina at 00.19 2 komentar
Ini tentang Hp Sonny Ericsson seri J108i milikku. Si Cedar ini sudah cukup menemani hari-hariku selama beberapa tahun. Dulu aku membelinya dengan harga 850 ribu, hasil menabung uang transport harian dan sisa jajan selama beberapa bulan. Harga yang cukup murah pada saat itu untuk ukuran Hp dengan fitur yang lumayan oke.

Sudah sejak setengah tahun belakangan ini si Cedar suka ngambek. Kalo misal lowbatt dan sampe off, maka aku harus menge-save ulang semua nomor yang ada. Jika tidak, aku nggak akan tau siapa pengirim Pesan/SMS yang masuk. Karena inbox message Cedar hanya menampilkan nomor tanpa nama. Dan itu membingungkan. Aku jadi sering dibilang sombong karena sering nanya: "ini siapa ya?" dikira nomornya nggak di-save atau malah udah aku delete. Ya akhirnya aku jarang balas SMS kalo emang aku nggak tau itu dari siapa.

Bukan cuma itu saja, akhir-akhir ini Cedar semakin nggak beres. Tanda perangkat headset sering muncul tiba-tiba walau alatnya nggak terpasang, membuat suaranya jadi hilang timbul atau bahkan nggak ada suara sama sekali. Puncaknya, si Cedar ku itu nggak bisa dipake buat nelpon, mendengarkan musik dan menghidupkan radio. Sekarang Hp yang fungsi utamanya untuk menelpon itu hanya bisa dipake buat SMS-an dan foto-foto doank (foto yang dihasilkan dari kamera 2 MP si Cedar lumayan oke loh). Eh bisa buat browsing juga sih, tapi rada lemot hehe...

Gara-gara Cedar yang rusak, setiap telpon yang masuk selalu aku reject atau bahkan aku abaikan, membuat daftar panggilan tak terjawab memenuhi log Hp ku. Awalnya aku cuek aja, nggak terlalu mempermasalahkan hal itu. Toh aku juga udah jarang nelpon. Lebih sering komunikasi melalui SMS atau jejaring sosial semisal Fb, twitter, whatsapp dan sejenisnya. Hp ku cuma berdering kalo ada hal-hal yg penting, terutama dari keluarga dan atasan di kantor. Walau kadang ada juga sih yang sesekali nelpon ntah dari siapa dan ada perlu apa, sekedar bertukar kabar atau cerita-cerita. Dan itu udah jarang banget.

But... belakangan ini banyak sekali yang protes padaku mengenai pasal rusaknya si Cedar. Ternyata aku membuat orang-orang kelimpungan karena nggak bisa menghubungiku. Dan kalo boleh jujur kadang aku 'kerepotan' juga sih dibuatnya. Well, akhirnya aku memutuskan untuk membeli Hp baru untuk menggantikan si Cedar. Baru sebatas niat sih, belum tau kapan akan merealisasikannya. Budget-nya udah ada tapi aku masih sayang aja sama Cedar ku ini (sama uangnya juga sih hehe). So... untuk sementara waktu (yang entah sampe kapan aku juga belum tau) sebelum ada pengganti Cedar, aku memilih untuk menukar simcard yang ada di Cedar dengan simcard yang ada di Android ku. Jadi monggo, siapa yang mau nelpon sekarang dipersilahkan. Nomor telkomsel ku udah bisa dihubungi lagi :)


17 Jul 2013

Tak Ingin Tertinggal

Diposting oleh Drina at 07.42 0 komentar

Dulu bukankah pernah aku katakan?
Aku tak ingin berada di belakangmu saat berjalan
Satu dua langkah ke depan
Aku ingin kita tetap sejajar: beriringan
Biar ku ikuti langkahmu yang lebar
walau dengan larian dan tersengal

Sungguh aku tak ingin tertinggal

29 Jun 2013

FlashFiction : Believe

Diposting oleh Drina at 08.19 0 komentar
Langkah ku berhenti di suatu tempat. Menatap apa yang ada di hadapanku saat ini dengan hampa. Aku ingat percakapan kita beberapa waktu lalu, saat kau mengantarku pulang setelah seharian menghabiskan waktu bersama di taman ria.

“Besok kau berangkat jam berapa?”

“Sekitar jam dua siang,”

“Kita masih bisa ketemu kan?” tanyaku berharap.

Kau tersenyum. Aku menunduk, pura-pura sibuk dengan gelang yang melingkar di pergelangan tanganku. Ada sesuatu yang menyelinap di hatiku, sebuah rasa kehilangan yang datang sebelum waktunya. Atau mungkin juga sedikit kecewa, karena waktu hanya sekejap mata mempertemukan kita.

“Insya Allah,” katamu memberikan secercah harapan padaku. “Kalau pun besok kita tak sempat bertemu, akan ada lain kali.”

“Yakin akan ada lain kali?”

Kau mengangguk yakin. Tapi aku sangsi.

“Ini bukan pertemuan kita yang terakhir kali kan?”

“Tentu,” katamu mantap. “Ingat, kau masih punya hutang padaku.”

Aku mengernyitkan dahi.

“Kau punya janji yg belum kau tepati. Itu namanya hutang juga kan?” kau tersenyum menggodaku. “Kita masih akan pergi ke pantai bersama, kau sudah janji mengajakku menyusuri tepi pantai dengan sepeda seperti yang biasa kau lakukan dengan sahabat-sahabatmu.”

“Aku akan menepatinya jika kau datang lagi,” janjiku.

“Ada satu lagi...”

Aku mengernyitkan dahi.

“Pertemukan aku dengan Aquila mu,”

Aku tersenyum, mengangguk sungguh-sungguh, berjanji sepenuh hati untuk memenuhi permintaanmu.

Aku akan merindukanmu, kataku dalam hati.

“Hei, jangan bersedih.”

“Aku...”

“Yakinlah, aku akan kembali ke sini menemuimu lagi.”

“Tapi...”

“Kau hanya harus yakin, Ra.”

“...”

“Karena jika kau yakin, maka segala sesuatunya akan mungkin.”

Aku memberanikan diri menatap matamu.

“Bukankah kau sendiri yang pernah bilang begitu padaku?”

Aku menggangguk.

Sekali lagi kau tersenyum, lalu membelai kepalaku.

“Jangan biarkan ketakutan-ketakutan itu menghantuimu, Ra. Karena itu yang akan mengikis keyakinanmu secara perlahan.”

Dan kau pun pergi, meninggalkanku yang berdiri mematung hingga sosokmu hilang dari pandanganku.

Setitik bening jatuh.

Bukankah kau bilang akan menemuiku lagi? Bukankah kau seharusnya datang menagih janji? Bukankah seharusnya waktu itu bukan pertemuan kita yang terakhir kali? Bukankah... Aku tak lagi bisa menahan isak, suara tangisku seketika memecah keheningan suasana di tempat ini. Apakah keyakinan itu tak berlaku untuk mengubah takdir Tuhan? Atau mungkinkah dari awal aku sebenarnya tak memiliki keyakinan itu?

Bukankah seharusnya...

Jika kau yakin maka segala sesuatunya akan menjadi mungkin?”  Tiba-tiba kata-kata itu terngiang-ngiang di telingaku.

Aku menghapus airmataku perlahan dan memaksakan senyum di bibirku.

“Aku tau mungkin aku tak bisa bisa lagi memenuhi janjiku padamu. Tapi aku percaya suatu saat nanti bila Tuhan menghendaki, kita akan bertemu lagi. Mungkin tidak di dunia, tapi siapa tau kita akan bertemu di syurga. Semoga...”

Aku memejamkan mata, berdoa sesaat. Lalu meletakkan bunga di atas pusaran mu, sebelum akhirnya meninggalkan tempat peristirahatan terakhirmu.
  


rheadrina
Kamar, 29Juni13

24 Jun 2013

Terlalu Ceroboh

Diposting oleh Drina at 05.49 4 komentar
Aku tergesa menuruni tangga dan tiba-tiba kakiku terpeleset. Untungnya tanganku bisa meraih pegangan sehingga tubuhku tak sampai menggelinding hingga ke anak tangga yang paling bawah. Hanya saja tak bisa aku pungkiri kalau seluruh persendianku terasa sakit luar biasa.

"Bang, Na tadi jatuh..."

Aku menghentikan jemariku yang bermain di atas keypad hp. Ingatan itu melintas di benakku.

***

"Lagi dimana, Na?"

Aku menjawab ragu, "Di rumah sakit."

"Rumah sakit?" Nada suaramu terdengar khawatir. "Kamu sakit? Kenapa nggak bilang?"

"Jatuh dari motor."

"Kok bisa?"

"Jalannya licin, Bang."

"Makanya lain kali kalo bawa motor itu nggak usah sok-sok jadi pembalap."

"Tapi Na nggak ngebut kok." Aku bersungut demi mendengar omelanmu.

"Kalo nggak ngebut nggak mungkin sampe jatuh gitu."

"Udah dibilang kalo jalannya licin juga."

"Iya, tapi kalo kamu hati-hati dan nggak ngebut pasti nggak bakal jatuh. Dasar ceroboh."

"Terserah Abang deh."

Aku mennggakhiri pembicaraan. Kesal.

***

"Upz!"

"Kenapa?"

"Bang, nanti telponnya dilanjutin ya."

"Loh, memangnya kenapa? Kelasnya udah mo mulai?"

"Belum, Na mo pulang ke kost sebentar." Kataku sambil berjalan menuju parkiran.

"Bukannya tadi kamu bilang baru nyampe kampus ya Na." Nada bicaramu sedikit heran.

"Iya, tapi..."

"Ada yang ketinggalan?"

"Nggak sih, tapi..." Aku sedikit ragu.

Kamu diam menanti jawabanku.

"Na lupa matiin setrikaan, Bang."

"Aduh... kamu ceroboh banget sih Na."

"Ngomelnya nanti aja bisa?" Sindirku.

Disindir begitu kamu malah bersiap-siap akan memperpanjang omelanmu.

Aku bersungut.

"Jangan diulangi lagi." Katamu akhirnya sebelum menutup telpon.

***

"Kamu jadi berangkat hari ini?"

"Iya."

"Pesawat jam berapa?"

"Jam 5 sore."

"Jam berapa mau ke bandara?"

"Sebentar lagi, Bang." Kataku sambil mencari-cari sesuatu.

"Nunggu apa lagi, ntar telat loh."

"Iya, sebentar lagi." Aku bersungut seperti biasa."

"Kamu lagi ngapain sih?"

Aku memindahkan ponselku ke tangan kanan. Menghela napas sesaat dan bersiap menerima omelannya.

"Nyari tiket pesawat."

"Apa?"

Aku menghela nafas sekali lagi.

"Jangan ngomel dulu ya bang, Na lagi pusing nih. Kalo tiketnya nggak ketemu juga, bisa-bisa Na batal berangkat."

"Dasar ceroboh." Seperti biasa kalimat itu yang keluar dari mulutmu.

***

"Aaawww!"

"Kenapa lagi?"

"Jari Na luka bang waktu ngiris bawang." Aku mengadu.

"Berdarah?"

"Ya iyalah." Aku jadi sewot mendengar pertanyaanmu yang nggak penting itu.

Kamu tertawa kecil.

"Udah dikasih obat?"

"Ini lagi dikasih obat. Periiiih hikz...."

"Kamu tuh emang ceroboh. Masa ngiris bawang aja sampe luka gitu. Makanya lain kali jangan sambil ngelamun."

Aku merengut kesal. Selalu dan selalu begitu. Bukannya kasihan malah ngomel dan menyalahkan.

***

"Bang... Na jatuh di tangga."

Aku membaca lagi SMS yang baru ku ketik. kembali ragu untuk mengirimkannya.

Dulu, aku begitu kesal dengan omelanmu. Selalu protes ketika kamu mengatakan aku ceroboh, walau pada kenyataannya memang begitu. Tapi aku tau, sebenarnya itu salah satu bentuk perhatian kamu padaku. Jadi apa pun yang terjadi aku selalu memberi tahu mu, termasuk hal yang menyangkut kecerobohanku itu.

Tapi itu dulu, sebelum masalah datang dan mengubah keadaan. Aku bahkan lupa sejak kapan perhatian itu berubah menjadi ketidakpedulian. Dan aku yang dulu terbiasa mengadukan segala sesuatu padamu sekarang lebih memilih menyimpan semuanya sendiri.

Aku mendelete SMS yang sebelumnya sudah ku ketik, mengurungkan niat untuk mengirimkannya padamu. Tidak ada gunanya.

Kamu benar, aku memang gadis yang ceroboh. Aku selalu ceroboh melakukan segala hal. Aku juga ceroboh karena mempercayakan kebahagian dan menitipkan impianku padamu. Bahkan aku terlalu ceroboh telah meletakkan hatiku padamu.


rheadrina
KamarKost, 24062013


11 Jun 2013

Sekerat Rasa Yang Tersisa

Diposting oleh Drina at 00.59 0 komentar

Pernahkan sesaat saja kau mengingat, bahwa kita telah sekain lama menyia-nyiakan waktu yang kita punya dan berpura-pura semua tetap sama. Tidakkah kau merindukan setiap potongan cerita yang senantiasa tersuguhkan untuk kita nikmati bersama? Bukankah walau dalam kelelahan dan kepenatan yang mendera, ia tetap mampu menghadirkan seulas senyum di wajah, menjelmakan kita menjadi manusia yang tak pernah menyerah. Tidak kemarin, tidak hari ini ataupun nanti.

5 Jun 2013

(Masih) Menunggu

Diposting oleh Drina at 08.18 0 komentar


Dia masih menunggu. Tentu saja dia masih menunggu, walau dalam keterdiaman yang sama sekali tak dapat dimengerti oleh siapa pun. Tapi jelas aku tau kalau dia masih menunggu. Menunggu dalam ketidakpastian yang begitu menyakitkan. Sungguh aku iba melihat sosok itu bergelut dalam penantian yang tak berujung. Entah sampai kapan.

20 Mei 2013

Dear Kaktus

Diposting oleh Drina at 01.02 0 komentar

Jangan heran jika pada akhirnya aku memutuskan menulis surat untukmu. Ini sebagai salah satu konsep keadilan yang seharusnya sudah lama berlaku. Yah, tentu saja akan tidak adil bagimu jika hanya kau yang mengirimiku surat sementara aku tidak. Apalagi selama ini sudah terlalu sering aku mengabaikan SMS atau pesan dari mu hehe...

Tolong jangan protes karena surat yang kau kirim dengan bantuan Pak Pos hanya aku balas melalui tulisan di blog. Sengaja, karena aku tau kau pasti membacanya segera setelah aku menulisnya. Kau kan pengunjung setia blog ku. Yang selalu datang tanpa diundang dan pergi tanpa berkomentar, walau kemudian ujuk-ujuk membahasnya lewat pesan singkat yang segera kau kirimkan. Aneh!

"Aku bukan orang yang terbiasa meninggalkan jejak," begitu kau pernah bilang. Seperti pencuri yang memasuki rumah korbannya secara diam-diam, berusaha tak meninggalkan jejak agar tak ketahuan Hahaha. Sadis sekali ya kata-kataku barusan. Hmmm... Atau mungkin kau seperti  'pemuja rahasia' nya Sheila On 7? Ah terserah kau saja.

Kaktus, aku pernah berkata bahwa ingat tak berarti rindu. Dan kau bilang, bahwa ingat itu jika pernah bertemu. Karena jika tidak semuanya adalah semu. Baiklah, anggap saja kau benar. Tapi bagiku, rindu bukan hanya saat 'pertemuan' ingin diulang. Dan sekalipun rindu itu semu, ia tetaplah bernama rindu. Sebab ia dirasa sebab sebenarnya ia ada. Nyata. Dan bukankah kau sering merindukanku, sahabat dunia maya mu? :p

Hampir 2 tahun berlalu sejak pertama kali qt berkenalan. Kalo tidak salah waktu itu kau tanpa sengaja 'menemukan' sebuah tulisanku yg bercerita tentang gadis yang membenci hujan, sepenggal cerpen yang sebenarnya belumlah selesai. Betul tidak? Oh kaktus maafkan aku jika aku salah, kadang-kadang sahabatmu ini menderita amnesia hahaha.

Kau, suka dan akan selalu menyukai hujan. Aku juga suka tapi tidak selalu, terutama jika hujan mengguyurku tiba-tiba saat sedang menikmati perjalanan. Ya, aku tidak suka kehujanan. Tapi terkadang jika sedih, aku lebih suka berhujan-hujanan. Kenapa? Agar tak ada yang menyadari kalo aku sedang menangis. Air hujan akan menyamarkan air mata yang jatuh dari pelupuk mataku.

Kaktus, aku tau terkadang aku sering bersikap tak peduli dan tak mau tau perasaan orang lain. Tapi kau selalu memakluminya. Aku bisa saja tak mengindahkan pesan-pesanmu, lalu ntah kapan menghubungimu. Terkadang aku mendengarkan ceritamu dengan serius, tapi lebih sering tak begitu menanggapinya. Ah... kau memang sahabat yang baik.

Aku sedang tidak memujimu, tapi begitulah adanya. Kau memang baik!

Well, aku sedang ada di kantor. Dan aku tak tau lagi harus menulis apa. Aku tak janji, tapi aku berniat akan mengirimimu surat dengan tulisan tanganku sendiri dan meminta bantuan Pak Pos untuk menyampaikannya padamu, seperti yang kau lakukan slama ini. Aku tak tau kapan niat itu akan terlaksana, jadi bersabarlah :)

Sahabatmu,

miss chocolate

16 Mei 2013

Berlayar Jauh Menemukanmu

Diposting oleh Drina at 22.38 0 komentar

aku masih ingin berlayar jauh
menjejaki langkah di setiap sudut dunia
mengarahkan pandang ke segala arah
membentang luas wawasan cakrawala
hingga aku dapat menemukanmu nanti
di suatu tempat yang aku tak tau dimana
di suatu waktu yang belum tau kapan pastinya

rheadrina

15 Apr 2013

Di antara dulu dan sekarang

Diposting oleh Drina at 08.47 0 komentar
Dulu kita tak saling menyapa, sekarang tak lagi saling sapa
Dulu kita tak saling menghubungi, sekarang tak juga berniat untuk menghubungi
Dulu kita tak pernah saling bercerita, sekarang tak lagi ingin membagi cerita
Dulu kita tak pernah menangis tertawa bersama, sekarang kita bahkan tak saling berbagi rasa
Dulu bukan aku yang kau cari, sekarang tak pula kau cari-cari
Dulu bukan aku yang ada disampingmu, sekarang aku tak lagi disampingmu
Dulu kita tak pernah terbiasa, dan pada akhirnya kita pun terbiasa untuk tak lagi saling terbiasa
Lalu, dimana masa itu ketika pernah ada?
Apakah hanya sesaat setelah dulu berlalu dan sekarang belum datang?


rheadrina
KamarKost, 15042013

[sesungguhnya semua akan berubah seiring bergantinya waktu, karena sesungguhnya yang kekal adalah perubahan itu sendiri]

6 Apr 2013

Puisi Matematika Cinta

Diposting oleh Drina at 07.39 0 komentar

Maukah kau mengajariku rumus matematika?
Untuk menghitung luasnya ruang hatimu yang masih tersisa
Untuk mengukur jarak antara masa lalu yang berlalu dan masa depan yang akan datang
Untuk memperkirakan waktu yang tepat hingga dapat saling bersitatap

Maukah kau menjadi guruku dan mengajari aku sedikit ilmu mu?
Agar aku dapat mengurangi cemburu yg berkali-kali menyelinap diantara rindu
Agar aku dapat mengkalkulasikan semua perhatian di sela-sela sulitnya membagi waktu
Agar setiap moment yang hadir tak hanya sekedar menjadi simbol-simbol kenangan
Agar yang aku dapatkan adalah jawaban pasti dari semua kemungkinan

rheadrina
KamarKost, 04042013

25 Mar 2013

Aku Dalam Sebuah Cerita

Diposting oleh Drina at 21.45 2 komentar
Aku tak tahu kenapa aku bisa berada di sini, pada sebuah cerita yang bukan aku tokoh utamanya, bukan pula si penulisnya. Apa? Oh bukan... aku juga bukan pembaca. Karena aku bukanlah orang yang membaca sebuah cerita dan pasrah menerima ending yang dituliskan oleh penulis. Editor? Hmmm... mungkin itu lebih tepat. Baiklah, jadi anggap saja aku editornya. Deal?

Seperti yang aku katakan tadi, aku bukan si tokoh utama. Seseorang telah tanpa sengaja memperkenalkan diri sebagai penulis yang sekaligus tokoh utama dalam ceritanya. Tanpa diminta penulis itu menceritakan sebuah kisah, lengkap dengan penokohan, alur, setting, konflik dan sebagainya. Aku bahkan tak tahu kenapa pula aku yang dipilih olehnya. Ia mendengarkan pendapatku, membiarkanku mengoreksi beberapa bagian dan memintaku untuk menambahkan beberapa hal guna menyempurnakan ceritanya.

Aku memang tak terlibat langsung dalam cerita ini, aku hanya mengetahui kisah ini saat ia, si penulis, telah menyelesaikan beberapa bab dan berhenti di satu bagian yang membuatnya bingung untuk menentukan ending cerita. Padahal naskah tersebut seharusnya sudah akan diterbitkan. Well, karena aku sudah berada disini -di samping penulis dan di antara jalinan cerita- maka biarkanlah aku 'menyarankan' sebuah ending yang baik untuk cerita ini. Boleh ya? Ini hanya saran saja, jadi tak diterima pun tak mengapa :)

Menurutku tidaklah bijak jika penulis membiarkan akhir cerita ini 'menggantung'. Bagaimana mungkin penulis membiarkan tokoh utama berpisah dengan kekasihnya yang pergi menghilang begitu saja tanpa ada kalimat penjelas, tanpa memberi tahu siapa yang salah dan apa kesalahannya? Janggal sekali kedengarannya, lebih seperti sebuah cerita yang belum terselesaikan. Dan tentu saja itu akan mengecewakan pembaca yang membaca cerita ini.

Aku pikir sebaiknya kedua tokoh ini harus bertemu, agar tak lagi diam-diam masih saling merindu, agar hilanglah segala ragu, agar jarak diantara mereka tak terasa kian menjauh. Aku pikir mereka harus bicara untuk menuntaskan masalah, agar tiada rasa bersalah tertinggal menyesakkan dada, agar segala tanya yang ada menemukan jawabnya, agar mereka tahu apakah masih saling mencinta. Dan setelah itu, terserah pada mereka apakah memutuskan untuk tetap berpisah atau melanjutkan hubungan mereka.

Atau kisah mereka mungkin usai tapi penulis bisa tetap melanjutkan ceritanya dengan menghadirkan tokoh baru, misalnya aku. Bisa saja kan? Toh sebagai penulis dia bebas mengembangkan cerita yang ditulisnya. Tidak menutup kemungkinan bila sebuah cerita pendek akhirnya menjadi sebuah novella atau malah novel. Dan hal itu akan membuat keterlibatanku dalam cerita ini nantinya bukan hanya sebagai editor lagi, melainkan sebagai tokoh yang merangkap menjadi editor. Ya tentu saja itu jika memang aku yang dihadirkan menjadi tokoh baru dalam ceritanya oleh Penulis hehe :p


rheadrina
Kost, 25032013

 

24 Feb 2013

Kamu

Diposting oleh Drina at 07.52 0 komentar
Kamu mungkin tak pernah tau seperti apa kamu dimataku,
bagaimana aku menggambarkan sosokmu.

kamu yang jarang menyunggingkan senyum;
padahal segaris tipis yang melengkung di sudut bibirmu itu sudah cukup.

kamu yang lebih suka membahasakan rasa sendiri,
lewat diam dan puisi,
lewat lirik lagu yang kau senandungkan lirih.

kamu yang begitu angkuh seperti tak pernah butuh siapa-siapa,
tapi diam-diam memperhatikan selalu,
merekam setiap moment yang terjadi dalam ingatanmu.

Kamu yang suka tak peduli dan sok acuh
ternyata menjaga dan melindungi dari jauh

Kamu yang terlihat sabar,
tak pernah bosan menghadapi setiap ke'moody'an,
dan selalu berhasil memberi pengertian.

Kamu yang tiba-tiba suka marah,
walau pada akhirnya lebih memilih mengalah,
karena tak ingin membuat orang lain kecewa.

 kamu yang suka melupakan hal-hal yang kecil tapi bagi orang lain itu penting,
sungguh nyebelin tapi juga ngangenin.

kamu yang apa adanya,
yang terlihat bahagia hanya karena sesuatu yang sederhana.

Iya, begitulah kamu.
Sosok yang membuatku sering merindu.

 Sadarkah kamu?



rheadrina, 24 Feb 2013

15 Feb 2013

Februari Tahun Kedua

Diposting oleh Drina at 09.52 0 komentar
Dua tahun yg lalu di tanggal yg sama, untuk pertama kalinya kita bertemu. Mungkin bukan benar-benar yang pertama kali karena bisa saja jauh sebelum hari itu kita pernah bertemu tanpa disengaja dan masing-masing kita tak menyadarinya. Tapi anggaplah saja dua tahun yang lalu adalah hari kita pertama bertemu, karena di hari itulah awal dari kebersamaan kita.

Ya, tepat tanggal 15 Februari di tahun yang berbeda dengan hari ini, untuk pertama kalinya kita bertemu. Aku percaya pertemuan kita saat itu bukanlah suatu kebetulan. Dan terbukti, pertemuan itu berlanjut dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya yang membuat kita semakin dekat hingga menjadi sahabat. Seperti ada sesuatu – yang entah apa itu – telah menyatukan hati kita: aku dan kamu. Kita berbagi, saling mengerti dan menasehati.

Tak terasa dua tahun telah berlalu sejak awal kita bertemu. Tawa, bahagia, luka, airmata, bahkan kecewa pernah mewarnai hari-hari kita. Entah sudah berapa banyak warna yang kita ciptakan, entah sudah berapa banyak cerita yang kita kisahkan, entah sudah berapa banyak waktu bersama yang kita habiskan. Entahlah, aku tak pernah menghitungnya. Yang jelas semua itu sangat berarti.

Lalu beberapa waktu lalu satu tanyamu padaku: "Apa yang ingin kamu lakukan berdua denganku sebelum Februari itu tiba?" Dan hingga hari ini tanya itu tak menemukan jawabnya. Belakangan ini kita bahkan hampir tak pernah bisa melewati waktu bersama-sama lagi. Aku tak menyangka hari pertama kita bertemu akan menjadi hari terakhir untuk kita benar-benar bisa bersama. Iya, tanggal 15 Februari akan jadi hari terakhir bagimu sebelum kamu memulai kehidupanmu yang baru. Aku ikut berbahagia untukmu, sungguh! Hanya saja, kalau boleh jujur aku sedikit sedih. Memang aku tak akan kehilanganmu dalam arti yang sebenarnya, tapi bagaimana pun juga semuanya tak akan lagi sama seperti sebelumnya.

Dua tahun yang lalu kita bertemu. Sejak hari itu kau menempati salah satu ruang di hatiku, hingga nanti sampai batas waktu yang aku belum tau.
Selamat menempuh hidup baru,
Barakallah...
Semoga menjadi keluarga yang SAMARA :)


rheadrina, 15 Feb 2013

7 Feb 2013

Bertahan

Diposting oleh Drina at 18.58 4 komentar
Apa yang membuat kita bertahan dalam suatu kondisi? Cintakah? Mungkin, tapi menurutku bukan hanya karena cinta. Sering kali kita terlalu terbiasa dengan seseorang yang ada di dekat kita. Terbiasa dengan tawanya, kelakarnya, perhatiannya, kebiasaannya dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, yang tanpa kita sadari menciptakan perasaan nyaman bila bersamanya. Rasa nyaman yang tidak kita rasakan saat bersama orang lain selain dia. Dan itu yang kemudian menghadirkan rasa takut akan kehilangan dirinya, sehingga kita memilih untuk bertahan dalam kondisi apa pun asal tetap bersamanya. Karena harus kita akui, bukanlah hal yang mudah membiasakan diri untuk tak terbiasa lagi.
 

2 Feb 2013

Kepada Yovano

Diposting oleh Drina at 09.33 0 komentar
Hai sahabat penaku di masa lalu. Apa kabarmu saat ini? Apakah kau sudah menerima paket yang aku kirimkan seminggu yang lalu? Seharusnya sih sudah, karena saat aku cek kode pengiriman melalui web www.posindonesia.co.id tertulis jelas bahwa paket ku sudah diterima oleh satpam kantormu pada hari Selasa tanggal 29 Jan 2013 Pukul 15.34. Kamu pasti kaget kan?

Iya, aku tau kamu tak pernah lagi menunggu kedatangan suratku seperti dulu. Malah mungkin kamu sudah melupakan sahabat penamu ini. Entahlah, kedengarannya aku terlalu sinis mengatakannya. Tapi asal kamu tau, sampai saat ini aku (masih) menunggu surat darimu. Bukankah dulu kamu berjanji akan menulis (bukan mengetiknya dengan komputer) dan mengirim surat padaku lagi. Kamu ingat kan, Yo? atau kamu lupa?

Usia persahabatan kita sudah memasuki tahun ke 13, dan memang sudah cukup lama kita tidak berkomunikasi dengan menggunakan jasa Pak Pos. Seingatku beberapa tahun belakangan kita sudah sangat jarang menulis surat, sejak kita mulai ngeblog dan berkenalan dengan jejaring sosial di dunia maya bernama Facebook dan Twitter. Sampai akhirnya kita benar-benar menghentikan kebiasaan itu.

surat-surat yg aku terima dari kamu

kotak tempat aku menyimpan surat

Perlu kamu tau, aku masih menyimpan semua surat darimu, juga kartu ucapan dan benda-benda lainnya (foto, novel, manga, gelang, gantungan kunci, pena bertali, hiasan dinding dan sketsa Detektif Conan). Semuanya, Yo. Semua yang pernah kamu berikan padaku. Karena bagiku semua itu menyimpan segudang cerita tentang persahabatan kita selama ini.

Yo, seperti yang aku pernah bilang: kamu adalah sahabat pena terbaik dan terlama yang pernah aku punya. Tentu saja bagiku kamu itu istimewah. Bayangkan saja persahabatan yang berawal dari selembar surat bisa bertahan selama ini. Padahal kita berbeda usia, agama, suku, adat, dan lainnya. Bahkan kita tinggal di kota dan pulau yang berbeda, berjarak ribuan kilometer dengan zona waktu yang berbeda pula. Untungnya ada banyak hal yang sama-sama kita sukai seperti buku, biru, cokelat dan tentu saja bintang. Dan mungkin hal itu yang membuat kita merasa cocok satu sama lain.

Ngomong-ngomong masalah bintang, saat ini aku sedang memandangi bintang-bintang di langit (kamarku) dan aku jadi ingat dulu pernah mengirimkan bintang (glowing in the dark) untukmu. Hei... bukankah kita punya suatu 'kesepakatan'? Kalo suatu hari nanti kita bertemu, hal pertama yang ingin dan akan kita lakukan berdua adalah duduk di lapangan berumput pada malam hari sambil memandang langit. Kita akan berebut bintang! Sesederhana itu.

Ah, tapi sudahlah lupakan saja. Kita tak perlu lagi berangan-angan. Seiring berjalannya waktu semua telah berubah dengan sendirinya. Hingga saat ini Tuhan sama sekali belum berkenan mempertemukan kita berdua. Tak apa. Toh dimana pun kita berada, kita masih bisa melihat bintang yang sama

Well, aku rasa cukup sekian suratku. Mungkin ini surat terakhir yang aku tulis untukmu (kecuali jika kamu kemudian menulis surat untukku lagi). Dan maaf sepertinya surat ini hanya akan aku posting di blog. Aku memang tak berniat mengirimkannya lewat Pak Pos. Berharap suatu hari kamu mengunjungi blog ku (itu jika kamu masih ingat kalo aku punya blog) dan tanpa sengaja menemukan surat ini. Jika pun tidak, aku bisa apa?


Sahabatmu,

Arie


Bengkulu, 02022013
 

Peoplecuek's Blog Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | Best Kindle Device